Mengajarkan anak berpuasa adalah salah satu bentuk pembiasaan baik pada anak. Apalagi ini berkaitan dengan pendidikan agama, karena puasa merupakan bagian dari Rukun Islam yang wajib dilaksanakan umat Islam.
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anak saleh salihah, dan taat menjalankan ibadah. Sayangnya sebagian orang tua justru salah ketika mengajarkan anak melakukan Rukun Islam keempat ini.
Beberapa Kesalahan Orang Tua Saat Mengajarkan Anak Berpuasa
Nah, Ayah Bunda, berikut ini adalah beberapa kesalahan yang terjadi ketika mengajarkan anak berpuasa
1. Memaksa Anak Berpuasa Penuh Sejak Kecil
Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan ini baru diwajibkan pada anak yang sudah baligh. Anak yang belum baligh tidak boleh dipaksa berpuasa, meskipun dengan alasan untuk latihan. Hal ini bisa membuat trauma, mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan dalam melakukan ibadah. Bahayanya, anak justru menolak puasa pada saat sudah mendapatkan kewajiban berpuasa.
Yang sebaiknya dilakukan adalah mengenalkan puasa secara bertahap dan dengan kerelaan anak. Ajarkan anak melakukan ibadah dengan bahagia dan tidak terpaksa.
2. Mengabaikan Kondisi Fisik Anak
Orang dewasa terkadang harus berjuang bertahan berpuasa meskipun terasa berat. Pada anak, kondisi fisik harus diperhatikan supaya berlatih ibadah yang belum bersifat wajib harus mengorbankan sesuatu yang wajib, yaitu menjaga kesehatan anak.
Jika anak sudah terlihat lemas, tidak bersemangat, mengeluh sakit, bahkan dehidrasi, berilah kesempatan berbuka lebih awal, agar tidak timbul kondisi yang lebih buruk.
3. Tidak Membekali Anak Pemahaman Spiritual dari Puasa
Puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum, jadi penting untuk memberi pemahaman ilmu agama khususnya tentang puasa. Ajarkan anak untuk belajar bersabar, memupuk rasa empati, dan membiasakan anak mudah bersyukur. Jika dirasa sulit menjelaskan hukum-hukumnya, Ayah Bunda bisa menjelaskan melalui cerita ringan agar lebih mudah dipahami.

4. Tidak Memberi Kesempatan Berlatih
Anak yang selama 11 bulan bebas makan minum tiba-tiba harus berpuasa selama sebulan penuh. Sesuatu yang tiba-tiba tentu akan menimbulkan ketidak nyamanan. Ada baiknya beberapa bulan sebelum Ramadan anak diajak berlatih berpuasa, meskipun hanya beberapa waktu saja. Dengan demikian pada saat bulan Ramadan tiba, anak akan lebih siap belajar berpuasa.
5. Menerapkan Aturan Berpuasa Sebagaimana Orang Dewasa
Perlu diingat puasa yang dilakukan anak-anak yang belum baligh bersifat latihan. Kesalahan orang tua menerapkan aturan berpuasa, seperti dengan memaksa, menghukum ketika gagal, justru bisa meninggalkan kesan puasa sebagai kegiatan yang menakutkan. Jika orang tua ingin mengajarkan ketaatan pada aturan agama, bisa dilakukan dengan memberi motivasi positif, pujian atau hadiah kecil ketika anak berhasil berpuasa.
6. Tidak Memberi Contoh atau Bimbingan
Orang tua adalah contoh atau teladan bagi anak-anaknya. Maka orang tua harus melaksanakan puasa dan ibadah pendukung lainnya dengan benar. Jika orang tua hanya memerintah atau menyuruh anak berpuasa tetapi tidak melakukannya, maka ini akan membuat anak bingung dan mendapat pemahaman yang salah tentang puasa.
7. Membandingkan dengan Anak Lain
Masing-masing anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, membandingkan anak dengan anak lain bisa membuat anak merasa tertekan, minder, atau iri dengan temannya. Sebaiknya, orang tua fokus pada progres masing-masing anak dan memberi apresiasi pada usaha yang dilakukan anak.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Ayah Bunda, puasa merupakan salah satu rangkaian perjalanan belajar bagi anak. Ia mengenal sesuatu yang baru, anak membutuhkan bimbingan dalam bingkai kasih sayang, bukan dalam tekanan atau keterpaksaan. Dengan pendekatan yang tepat, mereka akan tumbuh memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga melatih hati untuk sabar, peduli, dan bersyukur.
