Pernah nggak, sih? Anak mogok sekolah setelah liburan Panjang? Ya, libur panjang adalah saat yang ditunggu-tunggu semua anak. Waktu di mana ia bebas dari rutinitas yang ketat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau liburan tiba, anak bawaannya happy terus! Nah, saat waktu berlibur habis, dan harus kembali ke sekolah, tidak sedikit anak yang mogok. Ada saja drama yang diciptakannya, mulai dari sakit perut, rewel dengan bekal sekolahnya, atau menangis tanpa ada penyebabnya.
Fenomena seperti ini sering disebut sebagai post-holiday blues. Yakni kondisi emosional yang ditandai rasa sedih, cemas, dan malas kembali ke rutinitas setelah liburan panjang berakhir. Perubahan suasana santai menuju rutinitas yang terstruktur tidak mudah dilalui oleh setiap anak. Sebagian di antaranya terasa berat dan menjadikan suasana tidak nyaman. Mengapa bisa demikian? bagaimana mengembalikan semangat anak setelah liburan?
Penyebab Anak Mogok Sekolah Pasca Liburan
Sebagai orang tua tentu kita berusaha menanamkan disiplin tanpa drama. Supaya orang tua bisa mengambil langkah tepat, perlu diketahui penyebab di balik mogok sekolah tersebut.
1. Perubahan Rutinitas yang Drastis
Selama libur, anak mendapat beberapa kelonggaran, seperti boleh tidur lebih larut, memegang gadget lebih lama, dan lain-lain. Anak bisa saja belum siap kehilangan “kemerdekaannya” tersebut.
2. Kecemasan Perpisahan
Liburan menjadi momen kebersamaan dengan orang tua. Nah, setelah menghabiskan waktu berkualitas bersama orang tua, anak merasa berat harus terpisah kembali dengan orang tuanya, meskipun hanya beberapa jam saja untuk sekolah. Kecemasan berpisah juga terjadi pada saudara-saudara atau teman bermain selama liburan.
3. Kekhawatiran tentang Materi Pelajaran di Sekolah
Habisnya liburan berarti saatnya menghadapi kembali pelajaran sekolah yang mungkin terasa sulit. ini bisa menyebabkan anak enggan kembali ke sekolah
5 Strategi Mengembalikan Semangat Sekolah Anak Setelah Liburan
Membiarkan anak berlarut-larut dalam kesedihan tentu tidak bijak, akan lebih baik jika orang tua mempersiapkan jadwal kembali ke rutinitas sekolah beberapa hari sebelum liburan berakhir. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.
1. Membuat Transisi Rutinitas
Mulai H-3 sebaiknya sudah dibuat kegiatan transisi untuk mempersiapkan anak siap Kembali ke sekolah. Sebagai contoh, mulai mengembalikan jam tidur seperti semula. Demikian juga rutinitas lain seperti sarapan dan mempersiapkan perlengkapan sekolah.
2. Melibatkan Anak dalam Persiapan Rutinitas Sekolah
Buatlah suasana gembira untuk mengecek semua perlengkapan sekolah, mulai dari sepatu, tas dan buku-buku. Bebaskan anak memilih tempat bekal yang akan dibawa, jika perlu membeli tempat bekal yang baru. Dengan melibatkan anak, mereka akan merasa sebentar lagi akan kembali ke sekolah lagi.
3. Fokus pada Hal-Hal Positif
Orang tua tidak perlu membahas tentang pelajaran atau hal berat tentang sekolah. Ingatkan anak tentang hal-hal yang mereka sukai di sekolah, seperti bertemu teman sekelas, atau main permainan yang dia sukai. hal ini bisa membantu mengembalikan semangat anak setelah liburan.
4. Berikan Validasi Emosional
Pada saat mempersiapkan kembali ke sekolah, mungkin anak mulai merasa tidak nyaman dan timbul rasa malas. Menurut panduan dari UNICEF Indonesia mengenai dukungan mental anak, validasi perasaan sangat penting agar anak merasa aman secara emosional. Sebaiknya orang tua mendengar keluhan anak tanpa menghakimi. Sebagai contoh, bisa dikatakan seperti ini “Mama tahu rasanya berat harus bangun pagi lagi, padahal selama liburan bisa lebih bebas. Tapi mama yakin kamu bisa melewatinya.
5. Ciptakan Pagi yang Tenang pada Hari-H
Pada hari pertama kembali ke sekolah, malam hari sebelum tidur, sampaikan kepada anak kegiatan besuk pagi. Pastikan perlengkapan sekolah sudah disiapkan anak (boleh dengan batuan orang tua). Buatlah suasana pagi yang tenang dan santai, dengan menyajikan sarapan favorit anak. Hal ini dapat menurunkan level stres mereka sebelum berangkat ke sekolah.
Pantauan di Minggu Awal Sekolah
Suasana kurang nyaman mungkin akan terjadi 1-3 hari pertama. Orang tua perlu terus memantau waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan tersebut selama lebih dari dua pekan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan keluhan fisik seperti pusing atau sakit perut, atau perubahan perilaku seperti murung atau temperamental. Jika lebih dari dua pekan orang tua perlu mengkonsultasikan dengan guru kelas atau mencari saran dari ahli, seperti dokter atau psikolog. Perlu dicari tahu lebih lanjut apakah ada masalah di sekolah seperti bullying atau kesulitan belajar.
Kesimpulan
Mengembalikan semangat anak setelah liburan, tentu membutuhkan usaha serius dari orang tua. Kunci suksesnya adalah menggabungkan persiapan fisik dan pemberian dukungan emosional pada anak. Momen ini bisa sekaligus menjadi sarana belajar anak untuk siap dalam segala situasi. Semakin anak memiliki banyak pengalaman menjalani masa transisi semakin ia akan siap menghadapi berbagai situasi.
Referensi:
Panduan Transisi Sekolah – https://www.youngminds.org.uk/parent
Tips Parenting Kemendikbudristek – https://repositori.kemendikdasmen.go.id